Indonesia | English
  • Menyingkap Kodrat Hewani Manusia
    Last updated 30-11-2011
    Written by admin  

    Manusia dan Fenomena Kekerasan Massa menurut

    Pemikiran Elias Canetti di dalam Buku Crowds and Power

    Oleh Reza A.A Wattimena

    Dosen di Fakultas Filsafat, UNIKA Widya Mandala, Surabaya

    Versi lengkap bisa dilihat di rumah filsafat

                Indonesia adalah tanah yang penuh dengan konflik sosial. Ungkapan itu tidak berlebihan. Seperti dicatat oleh Imparsial, lembaga swadaya masyarakat yang berfokus pada pengembangan Hak-hak Asasi Manusia di Indonesia, pada 2008 lalu saja, ada setidaknya 1136 konflik kekerasan massal di Indonesia, dengan rata-rata 3 kejadian setiap harinya. Detilnya sebagai berikut; Penghakiman massa terjadi 338 kali (30 %), tawuran massal terjadi 240 kali (21 %), konflik massal bernuasa politik terjadi 180 kali (16%), konflik bernuansa perebutan sumber daya ekonomi terjadi 123 kali (11%), konflik perebutan sumber daya alam terjadi 109 kali (10%), pengeroyokan massal terjadi 47 kali (4%), konflik bernuansa agama dan etnis terjadi 28 kali (2 %), dan konflik massal lainnya terjadi 56 kali (5%). Dari semua konflik tersebut, sebagaimana dinyatakan oleh Rusdi Marpaung, Direktur Imparsial, ada 112 orang meninggal, dan 1736 orang mengalami luka-luka.[1] Kita masih belum menyimak beragam konflik massal lainnya yang lolos dari pengamatan Imparsial.

    Gambar dari pasarkreasi.com

                Mundur sedikit pada 21 Mei 1991 terjadi konflik keras antara pemerintah dengan organisasi Islam di Algeria terkait diskriminasi yang terjadi di sana. Awalnya adalah sebuah demonstrasi damai, namun dalam sekejap mata berubah menjadi konflik berdarah yang ditanggapi dengan amat kejam oleh militer. Konflik dengan pola sama berulang sepanjang 1991. Jika ditotal sebagaimana dicatat oleh The Robert Strauss Center for International Security and Law, ada lebih dari 400 konflik massal yang terjadi di Afrika. Beberapa diantara memakan korban ratusan ribu jiwa.[2] Dapat dikatakan bahwa fenomena kekerasaan massa, dalam bentuk konflik sosial yang melahirkan korban jiwa, adalah fenomena yang cukup umum di dalam sejarah manusia, mulai dari pemberontakan budak pada masa Romawi Kuno, perang salib, pembantaian massal orang-orang Yahudi pada masa perang dunia kedua, pembantaian orang-orang yang dituduh PKI pada 1965-1972 di Indonesia, sampai kerusuhan maupun konflik massal yang terjadi sepanjang 1998-1999 di Indonesia. Bagaimana kita bisa memahami fenomena mengerikan ini?

                Saya akan mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan menggunakan pemikiran Elias Canetti di dalam buku Crowds and Power (Massa dan Kekuasaan). Ia memberikan argumen menarik, bahwa lepas dari segala sifat luhurnya, manusia memiliki kodrat hewani yang tertanam jauh di dalam dirinya. Kodrat hewani inilah yang memungkinkan manusia, lepas dari semua sebab ekonomi dan politis, berubah, berkumpul sebagai massa, dan bertindak kejam terhadap manusia lainnya.

                Untuk menjelaskan argumen tersebut, tulisan ini akan dibagi ke dalam tiga bagian. Awalnya saya akan memperkenalkan sosok pribadi dan karya dari Elias Canetti (1). Lalu saya akan menjabarkan beberapa konsep dasar di dalam pemikiran Canetti, terutama yang terdapat di dalam karya magnum opus-nya, yakni Crowds and Power terkait dengan hubungan antara manusia dan massa (2). Tulisan ini akan ditutup dengan beberapa butir kesimpulan penting terkait dengan beberapa argumen Canetti, serta tanggapan kritis atasnya (3). Sebagai dasar teoritis saya mengacu pada pemikiran Ritchie Robertson, F. Budi Hardiman, dan, tentu saja, Elias Canetti sendiri.

     

    1.Elias Canetti[3] dan Destruksi Filsafat Tradisional

                Elias Canetti (1905-1994) adalah orang Jerman keturunan Bulgaria. Ia dikenal sebagai seorang filsuf, penulis novel, penulis esei, sosiolog, dan penulis naskah drama. Pada 1981 ia meraih hadiah Nobel untuk kategori sastra dan literatur. Karyanya yang paling terkenal adalah Crowds and Power yang diterbitkan pada 1960. Buku itulah hendak saya jabarkan dan tanggapi di dalam tulisan ini. Di dalam buku itu, ia mencoba memahami fenomena gerakan massa, dan aspek-aspek yang mengitarinya. Untuk itu ia membaca berbagai peristiwa sejarah, mitos, dan karya-karya sastra yang tersebar di berbagai kebudayaan dunia.

                Menurut beberapa komentator pemikiran Canetti, buku itu sendiri lahir dari keprihatinan Canetti, ketika melihat pembakaran Palace of Justice di Wina, Austria pada 1927. Buku itu sendiri nantinya terbit pada 1930-an, namun baru menarik perhatian banyak orang pada dekade 1960-an, tepatnya setelah Canetti memperoleh hadiah Nobel untuk kategori sastra dan literatur. Sebagian besar hidupnya dihabiskan di London. Namun begitu ia tidak banyak mengembangkan hubungan dengan para penulis maupun pemikir dari Inggris.

                Elias Canetti lahir di Ruse, Bulgaria, dari keluarga pedagang Yahudi. Dari keluarga itu, ayah seorang pengusaha dan ibu seorang pecinta sastra, Canetti memperoleh ketrampilan berbahasa Jerman, Spanyol (kuno), Bulgaria, dan Inggris. Namun pada akhirnya ia memilih untuk menulis di dalam bahasa Jerman, terutama karena cinta dan simpatinya pada kebudayaan Jerman. Pada masa muda ia pernah belajar di Zuerich, dan berhasil menghasilkan karya pertamanya, yakni naskah drama yang berjudul Junius Brutus. Pada masa-masa ini pula, ia berjumpa dengan Bertolt Brecht, dan mulai menulis karya-karya drama dengan tema dasar kegilaan manusia.

                Pada 1929 Canetti memperoleh gelar doktor dalam bidang kimia dari Universitas Wina. Pada masa-masa inilah ia mengalami peristiwa yang nantinya membekas dalam di dalam pikirannya, yakni pembakaran Palace of Justice oleh massa demonstran. Ketika pembakaran terjadi ia tepat berada di antara massa, dan merasakan betul apa yang terjadi, ketika orang hanyut dalam dinamika massa. Rupanya Canetti cukup peka. Ia melihat gejala kebencian dan diskriminasi pada orang-orang Yahudi oleh Nazi Jerman, partai politik yang pada masa itu mulai berkuasa. Ia pun pergi ke Inggris, dan tinggal disana sampai mati. Ketakutan pada fenomena kekerasan massa dan trauma yang dialaminya, akibat diskriminasi Nazi Jerman, mendorongnya untuk menulis buku Crowds and Power.  

                Di dalam buku tersebut, Canetti memulai analisisnya dengan pengandaian dasar, bahwa setiap orang memiliki insting alamiah untuk tergabung di dalam massa. Dan salah satu ciri mendasar dari massa adalah kemampuannya untuk menghancurkan. “Bentuk terendah dari upaya penyelamatan diri”, demikian tulisnya, “adalah membunuh.”[4] Buku itu terbagi dua. Bagian pertama adalah analisis Canetti tentang beragam bentuk massa yang ada di dalam peradaban manusia. Sementara bagian kedua lebih bergulat dengan persoalan berikut, mengapa massa, yang begitu liar dan destruktif, seringkali terkait dengan fenomena kekuasaan tertentu? Pada bagian kedua ini, walaupun tersembunyi, Canetti berbicara tentang Hitler dan bentuk kekuasaan yang ia punya di  Jerman, sebelum era perang dunia kedua. Pada hemat saya yang menjadi tujuan dari buku Crowds and Power adalah mengajak orang menyadari hadirnya gerak massa dan penguasa totaliter di masyarakat, serta berupaya untuk menanggulangi sisi merusak dari dua fenomena itu.

                Sebelum ia menjadi terkenal di dunia, karena meraih hadiah Nobel, Canetti hidup dengan amat sederhana di kota kecil bernama Hampstead. Sebagai seorang pribadi ia terkenal amat nyentrik. Ia tak suka mendengarkan orang lain berbicara. Bahkan ia menulis buku hariannya dengan bahasa sandi, sehingga orang lain tidak mengerti. Ia juga terkenal sebagai orang yang sombong. Pada suatu waktu ia diminta untuk menulis esei pendek tentang salah satu buku yang baru terbit di Jerman. Namun ia menolaknya karena ia merasa, bahwa buku itu tidak cukup bagus untuk dikomentari. Berbagai penghargaan diterimanya, seperti Foreign Book Prize (1949, France), Vienna Prize (1966), Critics Prize (1967, Germany), Great Austrian State Prize (1967), Bavarien Academy of Fine Arts Prize (1969), Bühner Prize (1972), Nelly Sachs Prize (1975), Order of Merit (1979, Germany), Europa Prato Prize (1980, Italy), Hebbel Prize (1980), Kafka Prize (1981), Great Service Cross (1983, Germany). Selain itu Canetti juga mendapatkan gelar doktor kehormatan dari dua universitas. Pada 13 Agustus 1994, ia meninggal di Zuerich, Swiss.

                Pemikiran Canetti yang paling menonjol adalah soal psikologi dan sosiologi massa.[5] Di dalam biografinya sebagaimana dicatat oleh Budi Hardiman, Canetti pernah menulis begini, “Sekarang aku mengatakan pada diriku sendiri bahwa aku berhasil membungkus abad ini ke dalam tenggorokan.”[6] Untuk memahami arti dari pernyataan ini, kita perlu membaca bukunya yang berjudul Crowds and Power. Buku ini memiliki isi yang amat pelik, bukan karena kesulitan bahasanya, karena Canetti justru menulis dengan bahasa yang amat enak dibaca, namun karena pemaparan fenomenologisnya tentang manusia dan massa. Ada 10 bab dalam buku itu yang terdiri 105 pemaparan-pemaparan pendek. Di dalamnya kita juga bisa melihat berbagai lukisan-lukisan hewani yang sering dimaksudkan oleh Canetti untuk menggambarkan manusia. “Canetti”, demikian tulis Budi Hardiman, “tampaknya berbicara tentang perilaku hewan, namun sesungguhnya yang dimaksudkannya adalah perilaku manusia.”[7]

                Namun sebaliknya juga benar. Canetti hendak menggambarkan perilaku manusia sambil menjelaskan mekanisme perilaku hewan-hewan. Dan dengan itu ia ingin membongkar perasaan-perasaan hewani di dalam diri manusia. Menurut Budi Hardiman tujuan buku itu adalah mengamati perilaku manusia di dalam rezim totaliter. Secara spesifik Canetti memaksudkan rezim NAZI Jerman yang berkuasa pada masa perang dunia kedua. Ada satu pertanyaan yang menggantung di dalam keseluruhan buku itu, yakni mengapa manusia, lepas dari segala pencapaian luhur dari peradaban dan ilmu pengetahuan, tetap melakukan kekerasaan brutal pada manusia lainnya? Jawaban Canetti cukup jelas, karena manusia tidak juga beranjak dari kodrat hewaninya yang brutal dan merusak. Inilah yang kiranya terjadi sepanjang abad ke 20, yakni pembantaian massal dan konflik massal berdarah yang dilakukan oleh pemerintahan totaliter.

                Buku Crowds and Power lebih banyak berisi deskripsi-deskripsi, dan bukan analisis gamblang yang biasa ditemukan di dalam buku-buku filsafat. Dapat dikatakan sebagaimana ditegaskan oleh Budi Hardiman, buku itu adalah suatu fenomenologi tentang massa dan kekuasaan.[8]  Bahkan ia mengatakan bahwa buku itu amat tepat disebut sebagai buku filsafat zoologis, karena banyak berisi tentang pengamatan atas beragam perilaku hewan di habitatnya masing-masing. Dengan kekuatan analisis dan penggambarannya, Canetti menghancurkan pandangan tentang manusia yang amat luhur, yang dijaga dengan amat ketat oleh teologi maupun filsafat tradisional. [9]

                Filsafat zoologis menurut Budi Hardiman hendak menantang pemahaman-pemahaman tradisional di dalam filsafat, terutama filsafat manusia. Posisi yang diambilnya adalah rasa heran, mengapa setelah majunya ilmu pengetahuan, filsafat, dan teknologi, manusia tetap tidak mampu menjinakkan naluri-naluri hewaninya yang seringkali brutal dan merusak? Maka upaya untuk memahami manusia tidaklah disebut sebagai antropologi (ilmu tentang manusia), melainkan zoologi, yakni ilmu tentang perilaku hewan-hewan. Pengandaian dasar filsafat zoologis, menurut Budi Hardiman, adalah epistemologi naturalistik, bahwa semua perilaku dan tindakan manusia didasari oleh suatu motif primitif yang dapat ditemukan pada hewan-hewan yang hidup di hutan rimba.[10]

                Di dalam filsafat modern, manusia dianggap sebagai subyek yang memiliki kesadaran. Dengan kesadarannya tersebut manusia memisahkan diri dari alam, dan menciptakan dunianya sendiri yang cukup diri, yakni masyarakat, desa, dan kota. Canetti dengan filsafat zoologisnya curiga dengan argumen ini. Baginya kesadaran manusia modern adalah jalan berputar yang ujungnya adalah pemuasan naluri-naluri hewani semata. Bahkan saya berani mengatakan, bahwa kesadaran subyek yang rasional khas filsafat modern pada hakekatnya hanya selubung yang menutupi naluri-naluri hewani yang tertanam di dalam kodrat manusia yang, jika kita mau jeli, dapat dengan mudah terlihat di dalam perilaku hidupnya sehari-hari.

                Di dalam agama-agama Abrahamik (Yahudi, Kristen, Islam), manusia dianggap memiliki suara hati. Bahkan juga dikatakan bahwa suara hati adalah “suara Tuhan” yang berbicara kepada manusia, dan membantunya membuat keputusan-keputusan dalam hidupnya. Dengan pengandaian dasar ini, manusia dianggap sebagai mahluk transendental. Namun sebagaimana dinyatakan oleh Budi Hardiman, Canetti memiliki pendapat yang berbeda. Baginya suara hati itu seperti sengatan dari dalam diri manusia untuk memutuskan sesuatu. Sengatan itu seringkali datang dari perintah luar yang diinternalisasi, dan kemudian mengendap di dalam pikiran manusia.[11] Perintah itu datang pihak yang lebih kuat, seperti layaknya singa si raja hutan punya hak untuk memangsa hewan-hewan yang lebih lemah, begitu pula di dalam masyarakat, orang-orang yang memiliki otoritas lebih tinggi berhak mendikte perintah pada mereka yang lebih lemah. Maka sebagaimana dinyatakan oleh Budi Hardiman, suara hati manusia bukanlah suara Tuhan, melainkan suara naluri hewani kita yang bisa dirunut panjang ke nenek moyang hewani manusia itu sendiri yang selalu takut pada pemangsa yang lebih kuat.

                Bagi Canetti manusia adalah mahluk yang tak pernah bisa lepas dari massa, atau kerumunan. Dalam konteks agama Canetti, menurut Budi Hardiman, melihat bahwa komunitas surgawi yang terdiri dari orang-orang kudus dan para nabi juga merupakan suatu bentuk massa atau kerumunan, walaupun tak tampak oleh mata. Bahkan manusia sendiri juga dapat dilihat sebagai kumpulan dari sel, atau massa/kerumunan sel. Proses terciptanya massa juga lahir dari kerumuman sperma yang hendak menembus sel telur perempuan. Hanya sel sperma yang kuat, sel survivor, yang pada akhirnya berbuah menjadi kehidupan baru. Tak hanya itu Canetti juga banyak berbicara mengenai fenomena kerasukan, ritual, topeng, dan inses yang selalu terkait dengan kekuasaan. Baginya itu semua adalah bagian tak terpisahkan dari kodrat manusia itu sendiri. Pertanyaan dasar Canetti adalah, “Apa artinya menjadi manusia di tengah-tengah keniscayaan naluri-naluri rimbanya?”[12]  

                Budi Hardiman melanjutkan bahwa ada dua argumen dasar di dalam buku Crowds and Power tulisan Elias Canetti. Pertama, ia menulis tentang konsep “rasa takut untuk persentuhan”. Intinya begini bahwa tatanan sosial, seperti masyarakat, bangsa, dan negara, tidak lahir karena kebutuhan ataupun kontrak sosial semata, tetapi karena warga takut untuk saling bersentuhan dengan warga lainnya. Karena takut bersentuh warga negara menciptakan ruang jarak antara satu sama lain. Inilah logika terciptanya beragam strata sosial di masyarakat. Pada satu titik rasa takut untuk bersentuhan itu tak lagi tertahankan, lalu terciptalah sebaliknya, yakni massa atau kerumunan yang merupakan persentuhan total antara berbagai warga negara menjadi satu keutuhan. Dalam bahasa Budi Hardiman, di dalam tafsirannya tentang pemikiran Canetti, massa adalah ketagihan atas persentuhan.

                Kedua, argumen penting Canetti yang kedua adalah soal metamorfosis, atau perubahan. Baginya manusia adalah sejenis hewan yang amat mampu melakukan proses metamorfosis. Di dalam penelitian ilmu-ilmu sosial, sebagaimana dinyatakan oleh Dilthey, kunci utama adalah kemampuan peneliti untuk melakukan empati, yakni mengambil posisi orang lain, lalu melihat dunia dari sudut pandangnya. Dengan cara inilah manusia bisa sampai pada pemahaman. Namun bagi Canetti empati adalah kemampuan utama manusia untuk bersikap “seolah-olah berbeda dengan dirinya sendiri”,[13] dan menjadi sesuatu yang lain. Dengan empati ini manusia bisa berpura-pura menjadi orang lain. Ia bisa mengubah dirinya, meniru mahluk lain, dan menyelamatkan dirinya. Mirip seperti bunglon manusia bisa berkamuflase, dan bahkan bermimikri, seperti hewan, untuk memenuhi kebutuhannya. Seluruh buku Canetti dapat dipandang sebagai upaya untuk melakukan studi sistematis fenomenologi kekuasaan dalam kaitannya dengan massa dan kemampuan manusia untuk mengubah dirinya sendiri.   

    2. Massa dan Kekuasaan

                Canetti memulai buku Crowds and Power dengan pemaparan fenomenologis, bahwa manusia takut pada segala sesuatu yang asing dari dirinya. Keasingan itu menakutkan dan meningkatkan kecemasan. Untuk itu manusia kemudian memberi nama, dan mengkategorikannya. Terlebih manusia tak mau bersentuhan secara fisik dengan benda-benda yang asing baginya. Jika itu terjadi maka reaksi spontannya adalah rasa panik. Salah satu mekanisme perlindungan diri manusia, menurut Canetti, adalah pakaian. Namun begitu pakaian pun tak juga cukup. Setelah pakaian itu disobek, maka manusia kembali telanjang, dan rapuh pada hal-hal asing yang siap menyentuh dirinya.[14]

                Sebagai mekanisme perlindungan dirinya, manusia juga menciptakan jarak dari sekitarnya. Jarak dengan demikian menurut Canetti adalah hasil dari rasa takut dan cemas terhadap persentuhan dengan manusia lain, atau dengan benda-benda lain. Misalnya di kota-kota besar, kita dengan mudah dapat menemukan adanya orang-orang yang mengunci diri mereka di rumahnya masing-masing, membangun pagar tinggi, memelihara anjing penjaga, dan, seolah semua itu tak cukup, memasang alarm anti maling. Hanya dengan begitu ia akan merasa aman, walaupun tak pernah sungguh-sungguh aman. “Ketakutan pada perampok”, demikian tulis Canetti, “bukanlah hanya ketakutan akan dirampok, tetapi juga ketakutan atas hal-hal yang tiba-tiba yang berasal dari kegelapan.”[15] Dengan kata lain pagar dan segala macam alat pengaman yang terpasang di rumah-rumah besar di kota-kota besar tidak murni merupakan perlindungan dari perampokan, tetapi lebih pada ketakutan pada yang tak terduga dan yang asing itu sendiri.

                Dapat kita simpulkan bahwa pengandaian antropologis Canetti adalah manusia sebagai mahluk yang takut bersentuhan dengan yang asing dari dirinya. Namun pemahaman ini berubah, setelah manusia mengubah dirinya, dan masuk menjadi massa bersama manusia-manusia lainnya. Di dalam massa manusia tak takut untuk bersentuhan dengan manusia lain, walaupun ia tak mengenalnya secara pribadi. Sebaliknya manusia juga merasa nikmat bersentuhan dengan manusia lainya, ketika ia menjelma menjadi massa. Dalam arti ini massa, menurut Canetti, adalah massa yang padat, yakni massa yang terdiri dari tubuh-tubuh manusia yang saling berdesakan. Tubuh itu anonim dalam arti tidak mengenal satu sama lain, namun mereka menjelma menjadi satu gerak, yaitu gerak massa. “Tepat setelah manusia menyerahkan dirinya ke dalam massa,” demikian tulisnya, “ia tidak lagi takut untuk disentuh.”[16] Di dalam massa manusia berubah menjadi apa yang bukan dirinya, dan menjadi sesuatu yang lain, yang memiliki cara berpikir maupun pola perilaku yang amat berbeda dari sebelumnya.

                Buku Crowds and Power juga dapat dibaca sebagai sebuah upaya sistematis untuk memahami hakekat manusia dan masyarakat dalam kaca mata naturalisme Darwinian.[17] Dalam arti ini naturalisme adalah paham yang mencoba memahami manusia sebagai bagian dari alam natural yang tidak memiliki kaitan dengan segala sesuatu yang berbau transenden, seperti ciptaan Tuhan misalnya.[18] Naturalisme banyak menimba pemikiran dari kemajuan ilmu-ilmu alam, seperti biologi, di dalam memahami manusia. Robertson –di dalam pemaparannya tentang pemikiran Canetti- menulis dengan amat menarik tentang ini, “Naturalisme Darwinian adalah upaya agung...untuk membawa manusia kembali kepada alam, untuk menyingkirkan semua bentuk rumusan idealistik yang telah mengganggu rumusan asli yakni homo natura.”[19]

                Semua ini dimulai ketika Darwin mempublikasikan karyanya yang berjudul The Origin of Species (1859) dan The Descent of Man (1871).[20] Kesimpulan kontroversial dari kedua karya itu adalah, bahwa manusia bukanlah mahluk yang diciptakan menurut citra Tuhan yang agung dan sempurna, melainkan hanya “sejenis hewan yang spesial”.[21] Dengan pemahaman ini para filsuf mulai menyusun sebuah teori tentang lahirnya masyarakat dan berbagai komunitas sosial yang ada di dunia. Caranya tidak lagi melihat ke alam transenden-ilahi, melainkan dengan mengamati apa yang terjadi di dalam dunia binatang. Di dalam buku Crowds and Power (selanjutnya saya singkat menjadi CP), Canetti banyak mengamati praktek-praktek yang terjadi di dalam peradaban primitif manusia, dan juga perilaku binatang. Dua fenomena ini menjadi titik tolak refleksinya tentang manusia dan peradaban. 

                Di balik upaya Canetti untuk memahami manusia melalui pengamatannya pada perilaku binatang dan perilaku suku-suku primitif, terletak satu motif sederhana, yakni menjadikan manusia sebagai bagian integral dari dunia, dan menjadikan dunia sebagai rumah manusia. Manusia bukanlah mahluk yang lebih tinggi, lebih luhur, atau lebih suci, melainkan merupakan bagian integral dari alam itu sendiri dengan segala keganasan dan ambivalensinya. Namun di sisi lain, seperti dicatat oleh Robertson, perilaku binatang seringkali amat kejam. Ada beberapa binatang yang memakan anaknya sendiri. Beberapa membunuh saudara kandungnya sendiri. Dan sama seperti binatang manusia pun memiliki kekuatan. Bagi Canetti kekuatan manusia adalah sesuatu yang amat individual dan sifatnya alamiah, yakni dalam bentuk kekuatan fisik, seperti juga pada binatang. “Bentuk kekuatan yang paling dasar”, demikian tulis Robertson tentang Canetti, “adalah membunuh mangsa.”[22] Alat yang digunakan untuk membunuh adalah tubuh, yakni organ-organ pelumat yang kuat, yang dimiliki manusia, seperti mulut, cengkraman, gigi untuk mengunyah, dan sebagainya. Semua ini adalah tanda kekuatan alamiah manusia yang bersifat amat primitif. Teror primitif yang sifatnya hewani, seperti kijang yang siap dimangsa oleh singa, bisa muncul, ketika bahu kita dicengkram oleh perampok, atau oleh tatapan ganas dan liar dari pemerkosa.

                Namun sebagaimana dibaca oleh Robertson, kekuatan diri manusia tidaklah identik dengan kekuatan fisik semata. Manusia juga bisa memiliki keunggulan psikologis dari lawan ataupun mangsanya. Misalnya ketika kita melihat perjamuan makan malam para politisi yang sebenarnya saling membenci dan bermusuhan. Tentang ini Canetti punya sudut pandang menarik. Baginya makan malam bersama antara politisi yang saling bermusuhan memiliki makna tersembunyi yang tak terkatakan, bahwa mereka tidak akan saling menghancurkan satu sama lain. Lebih tepatnya bahwa mereka tidak akan saling memakan satu sama lain, lepas dari garpu, pisau, dan sendok yang ada di tangan mereka, ketika mereka makan bersama.  Di dalam percakapan biasanya ada tawa. Di dalam dunia binatang, tawa adalah pengganti makanan. Bahkan hyena tertawa jika makanannya direbut. Para politisi pun juga tertawa untuk menutupi fakta kotor, bahwa mereka bisa memakan dan menghancurkan lawan politiknya yang sedang makan bersama mereka.[23] Tawa adalah simbol kekuasaan dan kemampuan untuk menaklukan.  

                Kekuatan penjelasan Canetti tentang makna kekuatan (kekuasaan) adalah kedekatannya dengan pengalaman kita sehari-hari yang bersifat alamiah. Dengan kegamblangan yang amat hewani, ia melihat unsur hewani manusia di dalam tindakan bernafas dan mengunyah. Di balik semua ini, kita bisa melihat pengandaian antropologis Canetti. Baginya manusia adalah mahluk yang cinta menyendiri (soliter), dan selalu bernafsu untuk menaklukan manusia lainnya.[24] Ia adalah mahluk yang selalu siap berperang melawan semua. Dalam arti ini seperti dicatat oleh Robertson, kehidupan sosial manusia adalah upaya sementara untuk meredam nafsu manusia untuk menaklukan sesamanya. Bahkan Canetti menulis begini, bahwa kita perlu untuk menjadi seorang kanibal, karena tindakan tersebut adalah simbol yang paling memuaskan dari upaya menguasai orang lain.[25]

                Menurut analisis yang dibuat Robertson, Canetti amat mengagumi satu jenis kekuatan psikologis yang dimiliki manusia. Kekuatan itu adalah kekuatan seorang survivor, yakni orang yang selamat dari tragedi besar yang menimpanya. Canetti membayangkan seorang pria tua yang tetap hidup melewati berbagai tragedi hidup, walaupun semua teman dan keluarganya telah mati. Ia hidup melewati berbagai perang dan wabah yang menimpa komunitasnya. Sosok seorang survivor juga dapat dilihat pada seorang penguasa yang berhasil menghancurkan musuh-musuhnya. Sebagai contoh empiris Canetti menyebut nama dua orang, yakni Muhammad Tughlak dan Daniel Schreber. Tughlak adalah penguasa kota Delhi di India. Ia benci pada semua penghuni kota itu, dan berfantasi mengusir mereka semua. Ia merasa bahagia membayangkan hidup sendiri bersama keluarganya di kota yang besar itu. Sementara Daniel Schreber adalah seorang hakim yang memiliki fantasi mengerikan, yakni menjadi manusia terakhir yang hidup, dan kemudian diminta oleh Tuhan untuk memulai terbentuknya spesies yang baru. Semua ini menurut Robertson adalah upaya Canetti untuk memahami Hitler yang secara terselubung menjadi tema utama kajiannya di buku CP.[26]

                Di dalam salah satu bagian buku CP, Canetti mengupas kisah hidup seorang sejarahwan Romawi yang bernama Josephus. Ia sempat membantu orang-orang Yahudi untuk memberontak terhadap pemerintah Romawi. Upaya itu berakhir dengan jatuhnya Yerusalem ke tangan tentara Romawi pada 70 tahun setelah Masehi. Bersama empat puluh pengikutnya, Josephus bersembunyi di gua. Setelah berdiskusi mereka pun sampai pada kesepakatan untuk melakukan bunuh diri bersama, daripada jatuh ke tangan Kekaisaran Romawi. Sejujurnya Josephus tidak mau bunuh diri. Namun kesepakatan kelompok menderanya. Ia pun mengajukan usul, supaya dibuat semacam undian, bahwa orang yang kedua yang mendapatkan undian harus membunuh orang pertama, orang ketiga membunuh orang kedua, dan seterusnya. Orang terakhir haruslah membunuh dirinya sendiri. Dengan berbagai cara yang licik, Josephus akhirnya mendapatkan undian terakhir. Namun ia tidak membunuh dirinya sendiri. Ia pun kabur dari gua, dan kemudian kembali hidup menjadi orang Romawi di dalam kekayaan dan kemakmuran.[27]  

                Namun bisakah karakter ganjil dari Tughlak, Josephus, dan Schreber dianggap sebagai karakter umum dari umat manusia? Bukankah dengan pola berpikir semacam ini, Canetti jatuh pada generalisasi yang semena-mena tentang kodrat dan hakekat manusia? Jika ditanya begitu saya kira Canetti akan menjawab begini, ketiga orang itu memang memiliki karakter ganjil. Namun di balik keganjilan tersebut, kita bisa melihat dorongan alamiah yang ada di dalam diri setiap orang, yakni dorongan untuk menyelamatkan diri. Di dalam peradaban modern, dorongan untuk menyelamatkan diri ini seolah menjadi jinak, karena dimediasi oleh institusi hukum modern.[28] Masyarakat modern beroperasi dengan pengandaian dasar, bahwa setiap orang bisa mempercayai setiap orang. Dan dengan kepercayaan yang bersifat kolektif tersebut, setiap orang diuntungkan. Artinya setiap orang berhasil menyelamatkan dirinya. Institusi modern dianggap mampu mengangkat naluri purba manusia ke level yang lebih beradab, dan dengan demikian menguntungkan semua pihak yang terlibat.[29] Namun ini semua tidak menutupi fakta gamblang, bahwa institusi modern tak selalu berhasil meredam gejolak naluri primitif manusia.

                Canetti curiga pada institusi. Bahkan menurut Robertson pandangan Canetti tentang hidup sosial amatlah suram. Dalam arti ini hidup sosial, menurut Canetti, adalah “situasi di mana satu orang memberikan perintah pada orang lainnya.”[30] Situasi ini mirip dengan kehidupan dunia hewan, di mana mangsa melarikan diri, karena takut akan dimangsa oleh hewan lain yang lebih kuat. Di dalam kehidupan sosial, setiap perintah yang diberikan oleh penguasa, entah itu bos ataupun penguasa politik, selalu didukung oleh ancaman yang tersembunyi di belakangnya. Ancaman yang paling mengerikan, tentu saja, adalah ancaman akan kematian dan pembunuhan. Sebagaimana dicatat oleh Robertson, Canetti berpendapat, bahwa setiap bentuk bentuk perintah terdiri dari dua aspek. Aspek pertama adalah momen, ketika si penerima perintah dipaksa untuk patuh. Aspek kedua adalah ancaman menusuk yang mendukung dan tersembunyi di balik perintah tersebut.[31] Dalam arti ini ketika setiap perintah dipatuhi, peristiwa tidak selesai. Si penerima dan pelaksana perintah selalu memendam dengki di dalam hatinya, karena merasa dianggap lebih rendah. Dengki ini adalah potensi bagi tindak pemberontakan. Namun potensi semacam ini tidak selalu menjadi realitas nyata.

                Rasa dengki ketika terpaksa menerima perintah paling terlihat di dalam keluarga. Anak dipaksa untuk patuh pada perintah orang tua dengan beragam ancaman yang tersembunyi di balik perintah tersebut. Dalam arti ini tak berlebihan jika dikatakan, bahwa keluarga adalah rumah bagi trio penyiksa manusia, yakni perintah, paksaan, dan dengki. Pada titik ini Canetti, sebagaimana ditafsirkan oleh Robertson, mulai meneliti tentang fenomena pembantaian massal yang marak ditemukan pada abad ke-20, baik dalam bentuk kamp konsentrasi, maupun pembunuhan massal. Seperti yang banyak dicatat oleh ahli sejarah, terutama di Indonesia, pelaku pembantaian massal seringkali bukanlah orang yang faktual jahat dan kejam, melainkan orang-orang biasa. Orang-orang biasa inilah yang, menurut Canetti, mampu menerima perintah untuk membantai, sekaligus mampu menahan rasa dengki yang berkecamuk di hatinya. Rasa dengki itu tidak semata ditahan, melainkan disalurkan untuk membantai musuhnya, atau dengan kata lain, dengan menjalankan perintah yang diberikan. Pada akhirnya si orang biasa melakukan pembantaian massal terhadap manusia lainnya, dan tetap tidak terganggu hati nuraninya, karena ia telah melaksanakan perintah, merasa dengki, dan menyalurkan dengki itu dengan membunuh.[32] Ia tetap menjadi orang biasa.       

                Setiap orang punya kuasa. Dan logika kekuasaan tetaplah sama sejak jaman purba, bahwa apa yang saya rebut dan dapatkan merupakan kerugian dari pihak lain. Dengan logika yang bersifat hewani inilah, menurut Canetti, masyarakat manusia terbentuk. Masyarakat bukanlah komunitas moral maupun keutamaan, melainkan sekumpulan massa yang diperintah oleh satu diktum, entah itu diktum itu terlihat jelas, atau tersembunyi di balik mekanisme-mekanisme yang lebih rumit. Analogi untuk itu adalah massa peziarah di Mekkah yang menantikan tanda dan sabda dari Allah yang diimaninya. Allah adalah pemberi diktum. Sementara manusia adalah hamba yang mesti patuh, atau terkena hukuman yang menyiksa dirinya. Dari sini kita bisa menyimpulkan, bahwa Canetti melihat manusia, dan segala ciptaannya, sebagai entitas yang kelam dan suram di satu sisi, namun amat variatif di sisi lain.  

                Seperti sudah disinggung sebelumnya, Canetti berpendapat, bahwa kekuatan manusia sudah tercetak di dalam struktur tubuhnya, yakni di dalam bentuk organ yang dimiliki manusia secara alamiah. Dengan kekuatannya manusia menciptakan peran yang amat alamiah, yakni peran pemangsa dan mangsanya. Inilah esensi dari kehidupan sosial, menurut Canetti. “Kehidupan sosial”, demikian tulis Robertson tentang Canetti, “hanyalah penunda dari permusuhan manusia.”[33] Pandangan ini tidak semata keluar dari spekulasinya, melainkan dari penelitian yang dilakukannya selama bertahun-tahun tentang kehidupan sosial yang ada di berbagai peradaban manusia, dulu maupun sekarang.

                Dalam arti ini dapatlah dikatakan, bahwa Canetti adalah seorang pemikir yang berhasil melepaskan diri dari pola berpikir Eurosentrik, yakni melihat dan menilai seluruh peradaban dunia dengan menggunakan standar yang ada di Eropa. Di sisi lain seperti dicatat oleh Robertson, Canetti juga berhasil melepaskan diri dari pola pikir, bahwa apa yang primitif itu tidak berguna, maka tak perlu dipelajari. Justru di dalam berbagai analisisnya, ia berhasil mendapatkan pemahaman yang amat mendalam dan alamiah tentang manusia dengan melihat bagaimana manusia hidup dan bersikap di dalam peradaban primitif. Menarik jika kita mencermati catatan yang dibuat Robertson tentang Canetti, “Dengan membuka mekanisme kerja kekuatan dan kekuasaan di berbagai kebudayaan yang berbeda, analisisnya membuka semacam kesamaan. Canetti menyatakan bahwa ia berhasil menunjukkan kepada kita tentang substansi yang keras kepala dari kodrat manusia.”[34] Dengan kata lain melalui pengamatannya terhadap kehidupan binatang dan suku-suku primitif di berbagai kebudayaan dunia, Canetti berhasil menemukan hakekat terdalam dari manusia.

                Buku Canetti berjudul Crowds and Power, yang berarti Massa dan Kekuasaan. Dalam arti ini kekuasaan berarti kekuatan yang dimiliki oleh setiap individu dengan tubuh dan kodratnya, bukan semata kekuasaan politik maupun ekonomi. Sebelumnya kita sudah melihat pendapatnya soal kekuasaan. Lalu bagaimana dengan massa? Bagi Canetti massa amat terkait dengan mekanisme kekuasaan yang berlangsung. Dalam arti ini massa justru merupakan penyeimbang dari kekuasaan, dalam arti yang mengubah kekuasaan menjadi harapan.[35] Sebelum masuk untuk mendalami argumen ini, ada baiknya kita melihat dulu beragam teori tentang massa yang telah ada sebelum Canetti menulis bukunya. Para filsuf sudah lama tertarik untuk mendalami fenomena massa. Di dalam berbagai peperangan sampai dengan revolusi modern, peran massa amatlah menonjol dan penting. Coba simak penyerbuan penjara Bastille pada saat Revolusi Perancis, atau pertempuran berdarah antara tentara Belanda-Inggris dengan rakyat Surabaya pada 1945.  

                Salah satu pemikir yang banyak diacu, ketika berbicara tentang massa adalah Gustave Le Bon. Baginya ketika bersatu dengan massa, orang kehilangan rasionalitas, dan kembali menjadi manusia “purba” yang tak punya pertimbangan kritis ataupun rasional atas apa yang terjadi. Ketika tergabung dengan massa, orang kehilangan kepribadiannya, menyatu dengan massa, dan seolah menjadi tak beradab. Orang seperti terhipnotis dan berubah menjadi kejam, tak mampu berpikir mandiri, dan mudah terbawa arus.[36] Mereka seolah turun ke tingkat evolusi yang lebih rendah, serta berperilaku seperti binatang dan orang biadab. Di dalam masyarakat modern, di mana akal budi menjadi aturan utama, munculnya massa adalah simbol dari penurunan kualitas keberadaban dari suatu masyarakat.[37] 

                Di dalam bukunya yang berjudul Group Psychology and The Analysis of Ego, yang diterbitkan pada 1959, Sigmund Freud, yang banyak dikenal sebagai bapak psikoanalisis, mencoba menerapkan pemikiran Le Bon pada analisisnya tentang psikologi kepemimpinan. Bagi Freud setiap anggota massa selalu memiliki pemimpin, dan ikatan di antara mereka adalah ikatan libidinal, dalam arti anggota massa mencintai dan menginginkan cinta pemimpinnya, namun tak mendapatkannya.[38] Sang pemimpin menyadari ini, dan mempermainkan perasaan itu. Salah satu bentuk permainan perasaan yang dilakukannya adalah dengan membuat anggota massa merasa senasib sepenanggungan satu sama lain. “Massa”, demikian tulis Robertson tentang Canetti, “dengan demikian mewakili kemunduran kepada struktur emosional dari suku primitif, di mana sekumpulan orang bersatu karena keterikatan ambivalen dengan ayah mereka.”[39] Dalam arti ini dapatlah dikatakan, sebagaimana dinyatakan oleh Freud, bahwa karya Le Bon tidak hanya menggambarkan tentang apa itu massa, tetapi juga menjelaskan tentang cara-cara untuk memanipulasi massa.

                Pemikiran Le Bon dan Freud tentang massa nantinya akan amat mempengaruhi Canetti. Bagi Canetti sendiri massa tidaklah muncul begitu saja, melainkan bertumbuh secara perlahan. Awalnya ada kumpulan orang, yang biasanya terdiri dari 12-15 orang. Mereka tidak berkumpul secara acak, melainkan memiliki satu tujuan yang sama, misalnya untuk bermain golf, berburu di hutan sebagai rekreasi, dan sebagainya. Namun sebagaimana dicatat Robertson, kumpulan orang, menurut Canetti, juga bisa merusak, misalnya untuk tawuran antar pelajar, tawuran antar suporter sepak bola, dan sebagainya. Ia mengamati sesuatu yang menarik di dalam fenomena kumpulan orang, yakni bahwa kumpulan orang adalah bentuk paling purba dari masyarakat, dan seluruh anggotanya berperan sebagai orang-orang yang setara. Tidak ada pemimpin dan tidak ada yang dipimpin.[40]

                Kumpulan lalu berkembang menjadi massa. Massa sendiri menurut Canetti lebih besar dan ikatan sosialnya jauh lebih longgar, daripada kumpulan. Namun keduanya memiliki kesamaan mendasar, yakni perasaan nikmat di dalam padatnya kerumunan orang. Di dalam massa menurut Canetti, orang-orang modern yang cenderung individualistik kehilangan individualitasnya, dan melebur menjadi tubuh kolektif. Di dalam massa orang dengan senang hati menyerahkan otonomi dirinya, ruang privatnya, dan ruang intimnya kepada kolektivitas. Di dalam bukunya Canetti, sebagaimana ditafsirkan oleh Robertson, menyatakan, bahwa manusia, pada dasarnya, takut untuk bersentuh dengan yang berbeda darinya, yang asing darinya.[41] Namun semua ketakutan itu lenyap, ketika manusia terhisap di dalam massa.

                Massa juga memiliki beragam bentuk. Ada massa penonton sepak bola, massa penonton konser musik, massa yang menghancurkan toko-toko dan bangunan, serta massa yang panik, karena ada kebakaran, atau bencana alam. Namun menurut Canetti ada yang sama dari semua bentuk massa itu, yakni bahwa anggotanya selalu berdiri sebagai manusia-manusia yang setara, lepas dari tingkat ekonominya, sukunya, agamanya, ataupun status kebangsawanannya. Kesetaraan yang sejati tidak terletak di dalam pemerintahan demokrasi, namun di dalam fenomena massa. Inilah perbedaan Canetti dengan Le Bon dan Freud. Bagi Le Bon dan Freud, massa memiliki sosok pemimpin yang dianggap lebih tinggi dari anggota massa lainnya. Sementara bagi Canetti seperti sudah ditulis sebelumnya, massa tidak memiliki, dan tidak memerlukan, pimpinan.[42]

                Bagi Canetti massa juga merupakan sebuah momen pembebasan dan pembaruan. Di dalam massa orang-orang yang di dalam kesehariannya menyendiri, atau dikucilkan dari masyarakat, dan orang-orang yang ditindas serta mengalami diskriminasi dari komunitasnya, akan menemukan kebebasan yang seutuhnya, yakni kebebasan primitif untuk menjadi bagian dari massa itu sendiri, untuk menjadi setara dengan orang-orang di sekitarnya.[43] Di sisi lain massa juga memiliki potensi revolusioner. Di dalam pemerintahan totaliter, massa adalah bentuk harapan untuk menjatuhkan penguasa totaliter tersebut, dan melahirkan tata politik yang baru. Setiap revolusi di dalam sejarah, baik itu revolusi damai ataupun berdarah, selalu melibatkan massa di dalamnya.

                Dalam arti ini massa adalah sesuatu yang ambivalen. Di satu sisi massa mampu menciptakan pembaruan. Di sisi lain massa mampu menciptakan kehancuran besar yang tak terduga.[44] Keduanya adalah suatu bentuk kekuatan. Oleh karena itu diperlukan suatu cara untuk mengendalikan massa, sehingga aspek destruktifnya bisa diatur. Menurut Canetti itulah tujuan dasar dari agama, yakni menjinakkan massa. Rupanya seperti dicatat oleh Robertson, ketika membicarakan soal hubungan antara massa dan agama, Canetti masih terpengaruh oleh Nietzsche dan Marx, yang melihat agama sebagai tanda kelemahan manusia, bahwa manusia memerlukan “pegangan” yang, walaupun rapuh, berguna untuk berjalan di ketidakpastian hidup.[45] Dengan ritual dan aturannya, agama berupaya membuat massa menjadi jinak, yakni dengan membuat anggota-anggota massa tersebut tunduk pada pimpinan agama terkait, seperti kambing tunduk pada gembalanya.[46]

                Argumen Canetti adalah bahwa manusia bisa tergabung ke dalam massa, dan melakukan hal-hal yang tak mungkin dilakukannya sendirian, karena ia memiliki kodrat hewani di dalam dirinya. Kodrat hewani tersebut menurut Canetti juga tampak dalam kemampuan manusia untuk berubah. Untuk menggambarkan fenomena ini, ia mengambil contoh kehidupan suku primitif di Afrika. Mereka memiliki apa yang disebut sebagai kecerdasan tubuh, yang berguna untuk merasakan kedatangan orang ataupun binatang, bahkan sebelum binatang ataupun orang tersebut tampak oleh mata. Menurut Canetti orang dari suku primitif Afrika tersebut berubah menjadi mahluk lainnya yang memiliki kepekaan tinggi (bukan lagi manusia), tepat ketika ia menggunakan tubuhnya untuk merasakan kehadiran mahluk di sekitarnya.[47] Ia mengubah identitas dirinya, dan menjadi serupa dengan hewan.

                Jadi manusia mampu mengubah dirinya. Ia mampu melepas identitas kemanusiaannya, dan menjadi sesuatu yang “lain”. Hal ini pula yang terjadi, ketika manusia terhisap ke dalam massa. Ia tidak lagi menjadi dirinya sendiri, melainkan menjadi sesuatu yang “lain” dari dirinya, yang menyerupai hewan. Canetti memperoleh pemahaman ini dengan membaca berbagai legenda yang terdapat di hampir semua peradaban manusia, seperti legenda Proteus yang mengubah dirinya untuk menghindari musuh-musuh yang hendak menangkapnya, atau pada agama-agama kuno yang yakin, bahwa seorang pendeta bisa mengubah dirinya menjadi “kendaraan dewa”, dan memiliki kesaktiannya.[48] Dengan kemampuan untuk berubah dan beradaptasi mengikuti lingkungannya, manusia memiliki kekuatan yang amat luar biasa untuk menyelamatkan dan mengembangkan dirinya. Itulah sebabnya mengapa negara dan agama berupaya menjinakkan kemampuan manusia untuk berubah, dan mengaturnya untuk kepentingan mereka.

                Kontrol terhadap kemampuan manusia untuk berubah dilakukan oleh agama dan negara melalui penggunaan simbol-simbol. Simbol tersebut biasanya berupa gambar hewan, seperti pada dewa-dewa Mesir Kuno, atau gambar-gambar lainnya yang dianggap memiliki nilai mistik. Di dalam pemerintahan monarki absolut, raja, dengam simbol-simbol monarkinya yang terlihat agung dan megah, hendak menghipnotis warga, supaya mereka selalu dalam situasi mendua antara takut dan kagum terhadap penguasa. Lebih ekstrem dari ini, pemerintahan monarki absolut, atau bentuk pemerintahan totaliter lainnya, justru kerap kali memasung kemampuan manusia untuk berubah dengan mengubah warga negara menjadi budak. Hakekat dari status sebagai budak adalah orang yang dipaksa untuk mengerjakan satu hal selama berulang-ulang dengan cara yang seefisien mungkin, tanpa pernah ada pilihan dari pihaknya. Status sebagai budak memasung manusia pada satu bentuk, dan mencegahnya untuk berubah. Dalam hal ini seperti dicatat Robertson, Canetti amat setuju dengan argumen Marx,[49] bahwa di dalam masyarakat kapitalis industrial, manusia diubah menjadi semata “tangan”. Manusia dihargai oleh karena produktivitas kerjanya, dan bukan karena kemanusiaannya. Manusia diubah menjadi semata benda, dan dikunci disitu.[50]

                Menurut Robertson buku Crowds and Power terdiri dari dua bentuk narasi. Di dalam kedua narasi tersebut, Canetti merumuskan teorinya tentang hakekat dari manusia. Seperti sudah dijelaskan sebelumnya, menurut Canetti, manusia adalah mahluk yang aktivitasnya amat dipengaruhi oleh faktor-faktor biologisnya. Bahkan dengan dorongan-dorongan biologis itu, manusia menciptakan masyarakat dan peradaban. Ia pun menambahkan bahwa peradaban manusia itu bergerak dengan hukum rimba, yakni siapa yang kuat, dialah yang memerintah dan menguasai segalanya. Ini berlaku untuk memahami era kekaisaran dan monarki absolut di masa lalu, maupun era kapitalisme sekarang ini, di mana para pemilik modal memandang buruh semata sebagai budak, yakni sebagai alat untuk meraup keuntungan. Terciptanya massa adalah suatu bentuk perlawanan terhadap semua bentuk kekuasaan totaliter semacam ini. Walaupun bisa bersifat anarkis dan merusak, massa juga adalah simbol dari harapan akan perubahan tata sosial.[51]

                Narasi kedua adalah tentang kemampuan manusia untuk berubah. Seperti ditunjukkan oleh Canetti, orang-orang primitif di Afrika memiliki kemampuan untuk merasakan kedatangan mahluk lain dari kejauhan. Mereka juga dapat mengubah dirinya untuk melindungi dirinya dari serangan ganas mahluk lain. Dengan kata lain manusia, menurut Canetti, adalah mahluk yang cair. Oleh sebab itu ia tidak akan pernah bisa dipasung sepenuhnya oleh kekuasaan, sekuat apapun kekuasaan itu. Setiap penguasa totaliter selalu menghendaki rakyatnya untuk patuh, dan tidak berubah. Sikap jinak dan patuh rakyat justru akan memperkuat kekuasaan pemimpin totaliter. Namun menurut Canetti manusia adalah mahluk yang dinamis. Maka manusia tidak akan pernah bisa sungguh dikuasai. Pada satu titik ia akan memberontak, dan pemberontakan itu biasanya dilakukan oleh manusia-manusia yang membentuk massa.

                Maka massa hadir untuk menantang dan meredam kekuasaan totaliter. Dengan kemampuannya untuk berubah, manusia melepaskan diri dari cengkraman kekuasaan totaliter, dan membentuk massa untuk memberontak. Semua ini terjadi karena manusia memiliki kodrat hewani di dalam dirinya, yang membuatnya mampu berkumpul, merusak, dan mencipta peradaban sebagai massa. Dengan membaca buku Crowds and Power, menurut Robertson, kita disadarkan, bahwa kita, manusia, adalah mahluk yang bertubuh dan terbuka. Sama seperti hewan kita bisa merusak, dan bersikap kejam, jika diri kita terancam. Dengan melihat kehidupan manusia yang tersebar di berbagai peradaban, dan di pelbagian untaian waktu, Canetti mengajak kita untuk menyadari kodrat alamiah kita sebagai mahluk hidup yang tak jauh berbeda dengan mahluk-mahluk hidup lainnya, bahwa kita sama-sama berproses dengan hewan dan tumbuhan untuk bisa bertahan, dan berkembang di alam yang selalu tak pasti ini. Itulah kebijaksanaan yang ditawarkan oleh Canetti.[52]

    3. Beberapa Catatan

                Sebagai seorang pemikir Canetti berhasil mengungkap dimensi-dimensi yang sebelumnya terlupakan di dalam memandang manusia terkait dengan fenomena massa serta kekerasan massa. Ada lima kesimpulan yang kiranya bisa ditarik dari pemikirannya. Pertama, manusia adalah mahluk yang memiliki aspek-aspek hewani di dalam dirinya. Aspek ini tidak tersembunyi, melainkan amat tampak di dalam perilaku sehari-harinya, seperti perilaku massa yang menyerbu barang diskon (lebah mengejar madu), berubah sikap sesuai konteks (bunglon yang menyesuaikan warna dengan habitat), membunuh dan menaklukan musuhnya (singa menerkam kijang), membangun perumahan liar di himpitan kota besar (tanaman liar yang hidup di sela-sela tanaman lainnya), dan sebagainya. Dengan kata lain manusia jauh lebih mirip dengan hewan dari yang disangkanya sendiri. Tak berlebihan jika dikatakan, bahwa untuk memahami manusia secara tepat, kita justru harus berpaling melihat ke dunia hewan-hewan.

                Dua, manusia bisa mengalami perubahan. Mirip seperti tombol on dan off, manusia bisa mengubah dirinya sekejap mata menjadi massa. Di dalam massa ia memiliki karakter yang jauh berbeda dengan diri pribadinya. Ia bisa membenci musuh dari massa, walaupun sebenarnya tak punya masalah pribadi sama sekali. Fenomena tawuran pelajar yang terjadi di Jakarta dan tawuran antar pendukung klub sepak bola tertentu adalah contoh-contoh nyata dari semua ini. Kemampuan manusia untuk berubah dalam sekejap mata juga tampak dari aksi penghakiman massa terhadap, misalnya, pencopet di terminal. Sebagai pribadi sang penghakim adalah orang yang santun dan sabar. Namun sebagai massa ia menjadi brutal, kejam, dan merusak, termasuk tanpa ragu merenggut nyawa manusia lain. Orang bisa memiliki karakter pribadi yang lembut, namun, dalam sekejap mata, ia bisa berubah menjadi ganas, ketika tergabung di dalam massa.

                Tiga, massa yang merupakan produk dari kemampuan manusia untuk mengubah dirinya memiliki dua sisi. Sisi pertama adalah sisi merusak. Massa hadir untuk mengguncang dan merusak, seperti dalam perang, pemberontakan, kerusuhan massa, konflik antar kelompok, dan sebagainya. Di dalam fenomena-fenomena ini, kita bisa lihat dengan jelas sisi hewani yang merusak dari manusia. Sisi kedua adalah sisi mencipta. Kehadiran massa juga sering menjadi tanda lahirnya era baru, seperti revolusi damai di Mesir pada 2011 dengan massa rakyat yang hendak menurunkan penguasa, massa demonstran yang menuntut turunnya Suharto pada 1998, dan sebagainya. Dengan menjadi bagian dari massa, manusia mengubah tata sosial, dan, pada akhirnya, mengubah dunia itu sendiri.

                Empat, Canetti melihat adanya hubungan internal antara massa dan kekuasaan. Pendek kata massa adalah kekuasaan itu sendiri. Massa bisa menghancurkan atau justru menciptakan sesuatu yang baru. Biasanya kedua proses itu berjalan berbarengan, supaya sesuatu itu bisa mencipta dirinya ulang sebagai sesuatu yang baru, ia harus hancur terlebih dahulu. Kekuasaan massa dimungkinkan karena manusia itu sendiri memang pada dasarnya berkuasa. Ia memiliki kekuatan fisik untuk menghancurkan, dan kekuatan psikis untuk menipu serta menjerat musuh, sehingga ia menghancurkan dirinya sendiri. Itulah kekuatan manipulasi yang digunakan oleh politisi untuk bertahan di dunia politik praktis yang seringkali tak manusiawi.

                Dan lima, konflik massa bisa terjadi, menurut saya, karena akumulasi dari kodrat hewani manusia untuk berubah, perubahan manusia menjadi massa yang memiliki dua muka (kreatif dan destruktif), serta penerapan kekuasaan fisik dan psikologis untuk menggapai tujuan-tujuan yang diinginkan. Inilah yang saya sebut, dengan meminjam ide-ide dari pemikiran Canetti, sebagai conditio humana (situasi manusiawi) dari konflik dan aksi kekerasan massa. Tiga hal ini bisa dilihat dengan mudah pada berbagai fenomena kekerasan massa yang terjadi dulu maupun sekarang. Dengan memahami ketiga conditio humana ini, kita bisa membangun kesadaran diri, bahwa diri kita pun memiliki kemungkinan untuk berubah menjadi ganas, berkumpul untuk merangsek dan mengubah situasi (pot